Ilustrasi uji klinis obat herbal untuk Covid-19 (Dery Ridwansah/JawaPos.com)


Pandemi Covid-19 telah mendorong penggunaan obat-obatan herbal untuk melawan penyakit tersebut. Pada 19 September lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengesahkan protokol untuk menguji pengobatan herbal yang mungkin untuk melawan Covid-19 dan penyakit lainnya.

Dilansir dari Science Times, Kamis (24/9), pengesahan itu mendorong terapi pengujian tradisional dengan kriteria yang sama yang digunakan untuk molekul yang dikembangkan oleh laboratorium di Asia, Amerika, dan Eropa. Ide untuk menggunakan obat-obatan herbal muncul beberapa bulan lalu setelah ada tawaran kontroversial dari Presiden Madagaskar yang mempromosikan minuman berbasis Artemisia, yaitu tanaman yang dikenal dengan kemampuan mengobati yang terbukti melawan malaria.

WHO bermitra dengan Komisi Uni Afrika untuk Urusan Sosial dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika. Para ahli di WHO dan kolega dari kedua organisasi ini telah mengesahkan protokol uji klinis jamu fase III untuk Covid-19 serta piagam dan kerangka acuan untuk pembentukan data dan papan pemantauan keamanan untuk uji klinis obat herbal.

WHO mencatat dalam pernyataan mereka bahwa uji klinis fase III sangat penting untuk menilai sepenuhnya kemanjuran dan keamanan produk medis baru. Direktur Regional WHO, Prosper Tumusiime mengatakan bahwa WHO akan merekomendasikan obat-obatan herbal untuk diproduksi secara cepat dan berskala besar setelah terbukti aman dan efektif untuk digunakan.

Serangan Covid-19 dan wabah Ebola di Afrika Barat telah meningkatkan kebutuhan akan sistem kesehatan yang kuat dan program penelitian dan pengembangan yang dipercepat dalam penggunaan obat-obatan herbal. Namun, Tumusilime tidak menyebut secara spesifik minuman yang dipromosikan oleh Presiden Madagaskar Andry Rajoelina, yang disebut Covid-Organics atau CVO, sebagai obat untuk Covid-19.

Minuman tersebut sekarang didistribusikan secara luas di Madagaskar dan dijual ke negara-negara Afrika lainnya. Direktur WHO untuk Afrika Matshidiso Moeti mengatakan bahwa pemerintah Afrika berkomitmen untuk menggunakan terapi tradisional melalui uji klinis serupa yang dilakukan obat baru sebelum mendapatkan persetujuan untuk menggunakannya.

Madagaskar telah menarik banyak perhatian ketika presidennya mengumumkan akan menggunakan tanaman lokal untuk memerangi virus Korona. Presiden Andry Rajoelina telah mempromosikan minuman berdasarkan ekstrak tumbuhan Artemisia, meski WHO sejauh ini tidak menemukan bukti tentang keamanan dan kemanjuran penggunaan tanaman untuk obat Covid-19.

Tanaman tersebut berasal dari Asia, tetapi umumnya tumbuh di banyak daerah yang cerah dan hangat di dunia. Tanaman Artemisia telah digunakan selama lebih dari 2.000 tahun sebagai obat tradisional Tiongkok dalam mengobati sejumlah penyakit, termasuk malaria, demam, dan digunakan sebagai pereda nyeri.

Para ilmuwan sekarang menguji Artemisia untuk keamanan dan keefektifannya melawan Covid-19. Ilmuwan Jerman dan Denmark mengklaim bahwa tanaman tersebut menunjukkan efektivitas melawan virus Korona setelah mereka menguji ekstrak tanaman tersebut. Mereka menemukan bahwa ketika digunakan dengan etanol murni atau air suling, ekstrak ini menunjukkan sifat anti-virus, meskipun penelitian tersebut belum ditinjau oleh rekan sejawat. Sementara itu, peneliti dari University of Kentucky berencana untuk mengujinya pada manusia saat ini.

12

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc